
Sekolah melaksanakan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sebagai upaya menjaga keselamatan seluruh warga sekolah. Program ini disusun berdasarkan data dan kajian ilmiah, salah satunya melalui penelitian yang dilakukan oleh PVMBG.
Hasil penelitian PVMBG menunjukkan bahwa lingkungan sekolah berada pada wilayah dengan potensi gerakan tanah kategori menengah hingga tinggi, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama. Jenis gerakan tanah yang teridentifikasi adalah longsoran translasi, yaitu longsoran dangkal yang bergerak mengikuti arah lereng.
Hasil Penelitian PVMBG di Lingkungan Sekolah
Beberapa hasil penting dari penelitian tersebut antara lain:
- Jenis Gerakan Tanah
Gerakan tanah yang terjadi di sekitar sekolah termasuk jenis longsoran translasi, yaitu longsoran dangkal yang bergerak mengikuti arah lereng. Jenis longsoran ini dapat terjadi kembali apabila hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama. - Kondisi Lereng dan Tanah
Lereng di sekitar sekolah memiliki kemiringan cukup curam. Lapisan tanah bagian atas bersifat gembur dan mudah menyerap air, sedangkan lapisan di bawahnya lebih keras dan kedap air. Kondisi ini menyebabkan air mudah terjebak dan memicu pergerakan tanah. - Pengaruh Curah Hujan
Curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama menjadi faktor pemicu utama terjadinya gerakan tanah. Saat tanah menjadi jenuh air, kekuatan tanah berkurang sehingga lereng menjadi tidak stabil. - Kondisi Bawah Permukaan Tanah
Hasil pengukuran bawah permukaan menunjukkan adanya lapisan tanah yang jenuh air pada kedalaman tertentu. Lapisan ini berpotensi menjadi bidang gelincir yang dapat memicu longsor susulan. Pada penelitian tersebut prediksi bidang glincir yakni antara 5 meter – 12 meter di bawah permukaan tanah. - Dampak Potensial
Penelitian juga mencatat bahwa beberapa akses jalan dan bangunan sekolah berada dekat dengan area rawan, sehingga perlu peningkatan kewaspadaan, terutama pada musim hujan.

Penelitian juga menemukan bahwa kondisi lereng yang curam, tanah yang gembur dan mudah jenuh air, serta sistem drainase yang kurang optimal dapat meningkatkan risiko longsor. Selain itu, hasil kajian bawah permukaan menunjukkan adanya lapisan tanah jenuh air yang berpotensi menjadi bidang gelincir.
Berdasarkan temuan tersebut, PVMBG merekomendasikan perbaikan drainase, pemantauan retakan tanah, pemasangan rambu rawan bencana, serta peningkatan kewaspadaan warga sekolah, khususnya pada musim hujan.
Hasil penelitian ini kemudian diintegrasikan ke dalam literasi bencana dan pembelajaran SPAB, sehingga peserta didik tidak hanya mengetahui risiko di lingkungannya, tetapi juga memahami langkah pencegahan dan tindakan saat terjadi kondisi darurat.
Melalui SPAB berbasis data PVMBG, sekolah berupaya membangun budaya sadar bencana demi terciptanya lingkungan belajar yang aman dan berkelanjutan.






Surat No 272Lap/GL .03/BGL/2026 dokumen dapat diunduh di https://vsi.esdm.go.id/tanggapan-kejadian/laporan-penyelidikan-gerakan-tanah-di-kecamatan-doko-kabupaten-blitar-provinsi-jawa-timur






