
SMKN 1 Doko Kampus 2 – Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (Permendikbud No. 33 Tahun 2019)
Pendahuluan
Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019, Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan, memberikan pelindungan kepada peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, serta memastikan keberlangsungan layanan pendidikan di fase prabencana.
Titik Lokasi sesuai koordinat

Pada periode 2024–2025, Kampus 2 SMKN 1 Doko mengalami gerakan tanah translasi di 7 lokasi lereng. Laporan ini menyajikan analisis peta elevasi berdasarkan data resmi Badan Geologi (PVMBG) Februari 2026 dan BPBD Provinsi Jawa Timur Maret 2025. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman bersama agar kita tetap waspada dan siap menjaga keselamatan dengan tenang.

7 Lokasi Gerakan Tanah (Periode 2024–2025)
- Elevasi tertinggi berada di Lokasi 5 & 6 (hingga 504 mdpl), menunjukkan posisi punggungan bukit yang rawan erosi saat hujan.
- Secara keseluruhan, lereng Kampus 2 terdiri dari tanah lapukan tebal 1–3 m di atas batuan lava vulkanik.
- Kondisi ini sesuai zona kerentanan gerakan tanah Menengah hingga Tinggi (PVMBG 2025).
Catatan analisis: Lokasi 4, 5, dan 6 berada di punggungan tertinggi dengan kemiringan lereng 20°–34°. Ini menjadi prioritas pemantauan karena dekat dengan area kegiatan sekolah.
Grafik 2 : Intensitas Bencana Tanah Longsor SMKN 1 Doko (Jumlah Titik Longsor per Tahun – data BPBD 2025 & PVMBG 2026) Dari 1 titik (Nov 2024) melonjak menjadi 7 titik (Okt–Nov 2025). Ini menunjukkan intensitas meningkat hampir 7 kali lipat dalam waktu 1 tahun.


Analisis Elevasi dan Kondisi Lereng



Analisis intensitas bencana tanah longsor di SMKN 1 Doko (Kampus 2), Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, berdasarkan dua laporan resmi yang disediakan:
Laporan-laporan ini hanya mencakup dua kejadian utama (2024 dan 2025), sehingga tren “tahun ke tahun” terbatas pada perbandingan langsung keduanya. Tidak ada data historis sebelum 2024 di kedua dokumen, tetapi PVMBG menyebutkan pola gerakan tanah lama yang bisa aktif kembali. Berikut ringkasan dan analisisnya:
1. Kejadian Tahun 2024 (Laporan BPBD Provinsi Jawa Timur, 27 Maret 2025)
- Waktu: Dilaporkan 21 November 2024 (setelah hujan intens).
- Lokasi: Satu titik utama di Kampus 2 (lereng di bawah ruang kelas/praktek).
- Dampak: Tanah longsor tunggal, mengancam keselamatan ~900 siswa.
- Faktor pemicu: Hujan berkepanjangan + lereng curam (30–45°), tanah lunak (dari mikrotremor: f₀ rendah 2,2–3,0 Hz, Ag tinggi 5,25–14,32, Kg hingga 84,33, γ hingga 5,22 × 10⁻²).
- Intensitas: Sedang (satu lokasi, belum multi-titik).
2. Kejadian Tahun 2025 (Laporan PVMBG/Badan Geologi, 16 Februari 2026)
- Waktu: Akhir Oktober – awal November 2025 (setelah hujan intensitas tinggi & durasi lama).
- Lokasi: 7 titik longsor translasi (dimensi 7 m² hingga 100 m² terluas di Lokasi 3).
- Dampak: Mengancam jalan akses sekolah (3 titik), jalan desa (1 titik), 3 bangunan sekolah, serta kekhawatiran warga/siswa saat hujan.
- Faktor sama: Tanah pelapukan tebal 1–3 m (poros, permeabel), di atas lava/breksi kedap air; lereng curam 20–34°; infiltrasi air dari drainase buruk + curah hujan tinggi. Geolistrik 2D mengonfirmasi zona jenuh air dangkal (resistivitas <14,3 Ωm) sebagai bidang gelincir.
- Intensitas: Lebih tinggi dibanding 2024 (multi-lokasi, luas total lebih besar, ancaman infrastruktur lebih luas).
Kesimpulan intensitas dari tahun ke tahun menurut laporan:
- Berulang & meningkat cakupannya dari 2024 (1 titik) ke 2025 (7 titik). Bukan kebetulan—kedua laporan menyimpulkan lokasi berada di Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah–Tinggi (PVMBG 2025) + potensi longsor susulan tinggi jika hujan intens berulang. Nilai Kg/γ tinggi dan geolistrik menunjukkan tanah lunak + air adalah faktor dominan. Tanpa mitigasi penuh, pola ini berpotensi berulang setiap musim hujan.
Hubungan dengan Siaran Pers BMKG (4 Maret 2026) tentang Musim Kemarau 2026
BMKG menyatakan musim kemarau 2026 datang lebih awal dan lebih panjang:
- Mulai April–Juni 2026 (termasuk sebagian besar Jawa Timur, termasuk Blitar).
- Puncak Agustus 2026 (61,4% wilayah Indonesia, termasuk Jatim).
- Curah hujan bawah normal (64,5% zona lebih kering); durasi kemarau lebih panjang di 57,2% wilayah.
- Dipengaruhi transisi La Niña lemah → netral ENSO, potensi El Niño lemah-moderat semester II 2026.
Kaitan langsung dengan longsor di Doko:
- Pola 2024–2025 terjadi tepat saat musim hujan intens (akhir tahun). Kemarau 2026 yang panjang & kering akan mengeringkan tanah (meningkatkan retakan), lalu saat peralihan ke musim hujan berikutnya (diprediksi mulai sekitar Oktober 2026 berdasarkan pola historis BMKG untuk Jatim setelah kemarau panjang), hujan awal sering ekstrem/intens meski secara keseluruhan bawah normal. Ini persis pemicu longsor translasi seperti 2025 (infiltrasi air cepat ke tanah pelapukan yang sudah retak).
- Area Doko (lereng Gunung Kawi, zona rawan tinggi) sangat rentan terhadap “efek rebound” ini: kemarau panjang → tanah kering & retak → hujan pertama → longsor susulan cepat.
Rekomendasi Persiapan Musim Penghujan (Pasca-Kemarau 2026)
Kedua laporan (BPBD + PVMBG) memberikan rekomendasi teknis identik yang harus segera dijalankan sebelum Oktober 2026:
- Penguatan struktural: Buat Dinding Penahan Tanah (DPT) di lereng bawah ruang kelas; terasering area praktek pertanian.
- Drainase: Perbaiki total sistem drainase (saluran besar, kedap air, betonisasi lantai) — ini prioritas utama karena infiltrasi air adalah pemicu nomor 1.
- Vegetasi & penutupan: Tanam akar kuat (bukan bambu di mahkota lereng); tutup retakan dengan material kedap air.
- Non-struktural: Pasang rambu rawan + jalur evakuasi; pemantauan rutin retakan; sosialisasi ke siswa/warga; koordinasi BPBD, Dinas PUPR, Pendidikan, dan PVMBG.
Kesiapsiagaan SPAB di Fase Prabencana
Sesuai Pasal 5 Permendikbud No. 33 Tahun 2019, sekolah telah:
- Melakukan identifikasi risiko lereng
- Mengumpulkan data koordinat dan elevasi
- Menyiapkan rencana pemantauan rutin
Mitigasi Non-Struktural Saat Musim Kemarau Panjang
Karena keterbatasan anggaran untuk mitigasi struktural (dinding penahan tanah atau terasering permanen), fokus kita pada langkah sederhana dan efektif:
- Pemantauan mingguan retakan lereng (khususnya Lokasi 4, 5, 6)
- Penanaman vegetasi berakar kuat (rumput vetiver atau rumput gajah – bukan bambu di mahkota lereng)
- Pemeliharaan drainase dan penutupan retakan dengan tanah kedap air
- Edukasi & latihan evakuasi setiap semester
- Pemasangan rambu kewaspadaan dan jalur evakuasi
Kewaspadaan Tambahan terhadap Gempa Bumi Kita juga perlu tetap waspada terhadap gempa bumi dengan kekuatan besar. Karena lereng sekolah belum diperkuat dengan dinding penahan tanah (DPT), gempa tersebut berpotensi mempercepat longsor susulan dan mempengaruhi kestabilan bangunan kelas yang berada di dekat lereng. Oleh karena itu, latihan evakuasi cepat dan pemantauan rutin sangat penting untuk menjaga keselamatan semua warga sekolah.
Kesimpulan dan Ajakan Bersama
Analisis ini menunjukkan bahwa dengan pemahaman elevasi, pemantauan rutin, dan kewaspadaan terhadap berbagai ancaman termasuk gempa bumi, kita dapat menjaga keselamatan seluruh warga sekolah (±900 orang) dengan tenang dan efektif.
Mari bersama-sama:
- Waspada tanpa khawatir
- Memantau lereng secara rutin
- Menjaga lingkungan sekolah
Kontak Tim SPAB Sekolah: Guru BK / Kepala Sekolah Sumber Data:
- Permendikbud No. 33 Tahun 2019
- Laporan BPBD Provinsi Jawa Timur (Maret 2025)
- Laporan Badan Geologi PVMBG (Februari 2026)
Update: Maret 2026 – Tetap semangat menjaga keselamatan bersama!






