
Blitar — SMKN 1 Doko terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan tangguh terhadap bencana. Salah satu inovasi terbaru yang dikembangkan adalah Web Peta Risiko Interaktif SPAB SMKN 1 Doko, sebuah platform digital yang memetakan potensi risiko bencana di lingkungan sekolah sekaligus menjadi media edukasi mitigasi bencana bagi siswa. Inovasi ini dikembangkan oleh Hendra Hermawan, S.Pd sebagai bagian dari karya inovasi pendidikan yang dipresentasikan dalam East Java Innovative Education Summit (EJIES) 2026.
Program ini lahir dari kondisi geografis SMKN 1 Doko yang berada di lereng perbukitan kaki Gunung Kawi dengan kemiringan lereng sekitar 20°–34°. Berdasarkan data kajian dari Badan Geologi dan BPBD Jawa Timur, kawasan ini termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi, sehingga memerlukan langkah mitigasi yang sistematis dan berbasis data ilmiah.
Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada periode 2024–2026, tercatat beberapa titik kerawanan longsor di lingkungan Kampus 2 SMKN 1 Doko. Situasi tersebut mendorong sekolah untuk memperkuat program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) melalui berbagai upaya, mulai dari pemetaan risiko, edukasi kebencanaan, hingga pengembangan teknologi informasi yang mudah diakses oleh warga sekolah.
Melalui web peta risiko ini, sekolah mengintegrasikan berbagai sumber data resmi seperti peta kerentanan tanah BPBD Jawa Timur serta hasil kajian geologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Data tersebut kemudian diolah menjadi peta digital yang menampilkan zona rawan longsor, jalur evakuasi, titik kumpul aman, hingga lokasi bangunan dengan tingkat kerentanan tertentu di lingkungan sekolah.
Keunikan inovasi ini terletak pada adaptasi model mitigasi bencana dari Jepang. Inspirasi tersebut diperoleh dari kunjungan tim AOTS dan METI Jepang ke SMKN 1 Doko pada Desember 2025 dalam program pilot project SPAB Jawa Timur. Dalam kegiatan tersebut, sekolah mempelajari konsep Disaster Imagination Game (DIG) dan My Timeline, yang kemudian diadaptasi dalam bentuk peta interaktif, kuis literasi bencana, serta fitur partisipasi siswa dalam pelaporan kondisi lingkungan sekolah.
Web ini tidak hanya berfungsi sebagai peta informasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran lintas disiplin. Dalam pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Sejarah dan literasi kebencanaan, siswa diajak memahami hubungan antara kondisi alam, aktivitas manusia, dan upaya mitigasi risiko. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar dari kondisi nyata di lingkungan sekolah mereka.
Melalui program ini, SMKN 1 Doko menargetkan terciptanya budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. Seluruh siswa diharapkan mampu mengenali jalur evakuasi, memahami tanda-tanda kerawanan lingkungan, serta berpartisipasi aktif dalam pemantauan kondisi sekitar. Tujuan akhirnya adalah mencapai konsep “zero victim” atau tidak adanya korban jiwa apabila terjadi bencana.
Ke depan, web peta risiko ini akan terus dikembangkan dan diperbarui secara berkala melalui kerja sama dengan berbagai pihak, seperti BPBD Kabupaten Blitar, BPBD Provinsi Jawa Timur, serta Badan Geologi. Program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik bagi sekolah lain di wilayah rawan bencana di Jawa Timur maupun Indonesia.
Dengan inovasi ini, SMKN 1 Doko membuktikan bahwa sekolah di daerah rawan bencana tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga dapat menjadi pusat edukasi mitigasi bencana berbasis data dan teknologi bagi masyarakat sekitar.
Lebih keren Baca di link berikut ini






