Mengapa Area Tanah Longsor Perlu Segera Ditutup Bahan Kedap air ?

Di daerah perbukitan seperti Doko, tanah longsor bisa terjadi ketika hujan deras mengguyur tanah dalam waktu lama. Setelah longsor terjadi, kondisi tanah biasanya menjadi sangat rapuh dan belum stabil. Karena itu, salah satu langkah darurat yang sering dilakukan oleh tim kebencanaan adalah menutup area tanah yang terbuka dengan bahan kedap air seperti terpal.

Langkah sederhana ini sering dilakukan dalam penanganan awal bencana longsor sebelum dilakukan perbaikan permanen seperti penanaman vegetasi, pembuatan drainase, atau pembangunan talud.

Terpal merupakan salah satu produk kedap air yang berguna mengurangi laju infliltrasi air di dalam retakan longsor.

Mengapa tanah longsor perlu ditutup terpal?

1. Mencegah air hujan masuk ke dalam tanah
Tanah yang sudah longsor memiliki struktur yang longgar dan retak. Jika hujan kembali turun, air akan mudah meresap ke dalam tanah dan membuat tanah menjadi semakin berat serta licin. Terpal berfungsi menghalangi air hujan langsung masuk ke tanah, sehingga tanah tidak cepat jenuh air.

2. Mengurangi risiko longsor susulan
Banyak kasus menunjukkan bahwa longsor sering terjadi berulang di tempat yang sama. Penutupan dengan terpal membantu mengurangi air yang masuk ke lereng sehingga risiko longsor susulan dapat ditekan.

3. Menjaga stabilitas lereng sementara
Terpal berfungsi sebagai perlindungan sementara sampai dilakukan penanganan yang lebih permanen seperti penanaman rumput vetiver, pohon, atau perbaikan drainase lereng.

4. Cara yang cepat dan murah
Dalam kondisi darurat, langkah ini sangat efektif karena mudah dilakukan, murah, dan bisa dikerjakan oleh masyarakat atau warga sekolah sebagai bentuk pengurangan risiko bencana.

Contoh penerapan di lingkungan sekolah

Di kawasan lereng seperti Kampus 2 SMKN 1 Doko, langkah sederhana seperti menutup retakan tanah atau area longsor dengan terpal dapat menjadi tindakan mitigasi awal saat musim hujan.

Langkah ini dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menutup permukaan tanah yang terbuka menggunakan terpal atau plastik tebal.
  2. Mengikat atau menahan terpal dengan batu, bambu, atau patok kayu agar tidak terbawa angin.
  3. Mengarahkan aliran air hujan agar tidak langsung menuju lereng yang rawan.

Setelah kondisi stabil, langkah lanjutan seperti penanaman vegetasi (misalnya vetiver atau tanaman agroforestri) dapat dilakukan untuk memperkuat lereng secara alami.

Belajar mitigasi sejak sekolah

Bagi siswa SMKN 1 Doko, memahami cara sederhana seperti ini sangat penting. Mitigasi bencana tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Kadang, langkah kecil seperti menutup tanah dengan terpal saat kondisi darurat sudah dapat membantu mengurangi risiko bencana yang lebih besar.

Dengan pengetahuan ini, siswa dapat ikut berperan dalam menjaga lingkungan sekolah dan masyarakat di sekitar lereng perbukitan.