
Blitar, 9 Maret 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja merilis prediksi musim kemarau 2026 yang datang lebih awal dan berpotensi lebih panjang serta kering dibandingkan normal. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, mencakup sekitar 61,4% wilayah Indonesia, termasuk sebagian besar Jawa Timur. Kondisi ini menimbulkan kewaspadaan khusus bagi SMKN 1 Doko, yang terletak di wilayah perbukitan Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, dengan risiko gerakan tanah dan longsor yang tinggi.
Menurut siaran pers resmi BMKG pada 4 Maret 2026, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah Indonesia sudah mulai memasuki kemarau sejak April 2026, termasuk pesisir utara Jawa hingga Jawa Timur. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa transisi dari La Niña lemah ke kondisi netral menyebabkan kemarau lebih maju dan kering, berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, serta penurunan ketersediaan air.
Di SMKN 1 Doko, lokasi sekolah yang berada di lereng perbukitan membuatnya rentan terhadap dampak iklim ekstrem. Tanah pelapukan yang lunak dan lereng curam berpotensi mengalami retakan selama periode kering panjang, yang kemudian bisa memicu longsor saat hujan pertama tiba pada transisi musim hujan mendatang. Kajian geologi terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama BPBD Kabupaten Blitar pada Februari 2026 menggunakan metode geolistrik mengonfirmasi adanya potensi gerakan tanah di area sekolah, termasuk indikasi bidang gelincir akibat kejenuhan air.
Kepala Sekolah SMKN 1 Doko menyatakan, “Prediksi BMKG ini menjadi pengingat bagi kita untuk tidak lengah. Kemarau panjang bisa membuat tanah semakin kering dan retak, sehingga saat musim hujan datang, risiko longsor meningkat drastis. Kami sudah mempersiapkan langkah mitigasi sejak dini.”
Sekolah ini telah aktif dalam program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang difasilitasi BPBD Jawa Timur. Beberapa upaya mitigasi yang sedang digalakkan meliputi:
- Penanaman rumput vetiver (akar wangi) di lereng sekolah untuk memperkuat struktur tanah, karena akarnya mampu menembus hingga 3-5 meter dan mencegah erosi serta longsor.
- Perbaikan dan peningkatan sistem drainase agar mampu menampung air hujan deras tanpa menyebabkan genangan yang memicu longsor.
- Pemantauan rutin retakan tanah dan pergerakan lereng, termasuk simulasi evakuasi bencana secara berkala.
- Edukasi siswa melalui kurikulum lingkungan dan pelatihan SPAB, agar seluruh warga sekolah siap menghadapi ancaman.
SMKN 1 Doko juga menjadi salah satu lokasi pilot project SPAB BPBD Jawa Timur, dengan kolaborasi intensif bersama PVMBG dan BPBD Kabupaten Blitar untuk pemetaan risiko dan penyusunan SOP keselamatan.
“Kami mengajak seluruh siswa, guru, dan masyarakat sekitar untuk tetap waspada. Pantau informasi cuaca dari BMKG secara rutin, dan ikuti arahan evakuasi jika ada tanda-tanda longsor seperti retakan tanah membesar atau suara gemuruh dari lereng,” tambah kepala sekolah.
Dengan persiapan adaptif ini, SMKN 1 Doko berupaya menjaga keselamatan warga sekolah sekaligus menjadi contoh ketahanan bencana di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.
Sumber:
- Siaran Pers BMKG (4 Maret 2026) dalam kompas.com
- Kajian PVMBG dan BPBD Kabupaten Blitar (Februari 2026)
- Program SPAB SMKN 1 Doko
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi humas SMKN 1 Doko atau pantau update di situs resmi sekolah: smkn1doko.sch.id. Tetap aman dan siaga!






